Stunting Bikin Pusing, Yuk Diskusi Soal Ini!

Pertanyaan seputar stunting kemungkinan masih terus bergulir. Istilah ini merujuk pada ciri fisik yang memiliki panjang badan lebih pendek ketika ukuran normal. Hal ini konon erat hubungannya dengan nutrisi yang diserap, bahkan ketika masih dalam kandungan.

Jika Anak Mengalami Stunting, Bagaimana Ya?

Anda tak perlu cemas, jika anak Anda mengalami hal tersebut. Sebab, sesungguhnya hal ini bisa diatasi. Sehingga cari tahu dulu yuk serba-serbi terkait gangguan pertumbuhan tersebut. Apalagi, menurut WHO gangguan pertumbuhan ini dialami karena kurangnya asupan nutrisi atau gizi. Berikut ini beberapa penyebabnya.

Minimnya Asupan Gizi Ketua Hamil

Lembaga kesehatan internasional, WHO menyatakan jika gangguan pertumbuhan ini terjadi ketika bayi masih dalam rahim ibu. Setidaknya persentase data yang telah terangkum ialah 20 persen. Pada ibu hamil, nutrisi yang harus diterima sang janin memanglah harus seimbang. 

Namun, untuk kasus ini kemungkinan besar jika asupan nutrisi bagi ibu hamil dan janin kurang memenuhi standar. Akibatnya, pertumbuhan si kecil menjadi terganggu. Bahkan hingga setelah kelahiran. Maka dari itu, pemenuhan kebutuhan atas nutrisi memang harus diprioritaskan.

Kebutuhan gizi anak kurang atau bahkan tidak tercukupi

Kejadian stunting ini bisa saja berlanjut ketika bayi sudah dilahirkan. Makanan balita yang tidak tercukupi dari segi gizi maupun nutrisi juga berpengaruh. Mungkin saja posisi menyusui ibu kurang pas, tidak diberikan ASI secara eksklusif, bisa pula dari makanan pendamping ASI nya yang kurang berkualitas.  

Literatur yang beredar bahwasanya jika kualitas makanan maupun ASI yang diberikan sangat berperan  dalam kejadian gangguan pertumbuhan ini. Biasanya, nutrisi seperti zat besi, zinc, protein hingga lainnya memang harus terpenuhi. 

stunting

Proses Terjadinya Gangguan Pertumbuhan

Gangguan pertumbuhan atau gagal kembang ini memiliki beberapa proses yang bisa Anda lihat. Dilansir dari buku Gizi anak serta remaja, umumnya anak berkembang ketika si kecil berusia 3 tahun. Berikut penjabarannya.

  • Ketika anak berusia tiga tahun ihwalnya masih menunjukkan keadaan normal. Namun, akan melambat seiring bertambahnya waktu. 
  • Proses kedua umum terjadi saat  grafik penilaian tinggi badan. Dimana dicatat berdasarkan umur tetap bergerak sesuai kurva standar. Alan tetapi, posisinya berada dibawah. Hal ini tentu menunjukkan sesuatu yang kurang normal bukan?
  • Sebagai informasi, ada sedikit perbedaan yang dialami antara anak usia 2 hingga 3 tahun saat mengalami gangguan pertumbuhan tersebut. Jika kurang dari umur tersebut tengah menunjukkan proses gangguan pertumbuhan tengah berlangsung. 
  • Untuk usia lebih dari tersebut, Anda bisa melihat kondisinya telah bisa dipastikan stunted. Dengan kata lain kegagalan tumbuh kembang ini sudah terlihat secara jelas. 
  • Faktor lain terjadinya gagal tumbuh kembang ini ialah peran orang tua. Bisa jadi sangat ibu kurang berpengetahuan terkait gizi. Baik ketika hamil, bahkan setelah melahirkan. Bisa pula karena terbatasnya Layanan kesehatan yang didapat. 
  • Penggunaan air bersih juga berpengaruh termasuk sanitasi. Untuk makanan, kemungkinan besar ketersediaannya memang kurang. Atau tersedia harga yang mahal sehingga tidak terjangkau. Maka dari itu, ibu hamil perlu memperhatikan hal-hal tersebut diatas. 

Merujuk pada hal tersebut diatas, sebetulnya gagal tumbuh kembang ini bisa diantisipasi. Apalagi, jika keluarga hingga lingkungan juga mendukung kondisi ini. Termasuk kesiapan tenaga kesehatan menjembatani ibu hamil untuk tetap dapat prioritas gizi yang baik. 

Atau, supply Makanan bagi bayi hingga anak-anak yang sedang bertumbuh tercukupi. Yang terpenting harganya terjangkau. Jika keseluruhan masalah ini bisa diatasi dengan baik, tentu stunting bisa diminimalisir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *